LUWU - Kisah tragis dialami keluarga Jufri. Anak Jufri, Nurfaidah dan kakaknya, Islamuddin, menjadi yatim piatu setelah ditinggal orangtua mereka dalam peristiwa kebakaran.
Pada 15 April 2012 lalu, Jufri yang mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, sempat menjalani rawat inap selama sepekan di RS I Lagaligo Wotu. Namun, nyawanya tidak tertolong karena luka bakarnya sangat serius.
Derita Nurfaidah dan Islamuddin belum berakhir. Sepekan setelah setelah ayah mereka meninggal dunia, ibu mereka, Rahmawati, menyusul. Perempuan berusia 32 tahun itu meninggal pada 2 Mei lalu dan dimakamkan di kampung halamannya di Desa Malela, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Jufri sendiri dikuburkan di daerah asalnya, Kabupaten Bone.
Setelah ditinggal orangtua, Nurfaidah kini dirawat tantenya, Hariyanti. Sementara Islamuddin masih menjalani rawat insentif di ICU RS I Lagaligo Wotu. Kondisi murid kelas 5 SD itu sampai hari ini masih kritis.
“Nurfaidah sudah diizinkan rawat jalan, tetapi Islamuddin masih kritis karena hampir seluruh tubuhnya luka bakar,” kata Hariyanti di kediamannya di Angkona Timur, Selasa (8/5/2012).
Hariyanti mengaku sedih melihat dua keponakannya itu, apalagi jika menatap Nurfaidah yang masih berusia 10 bulan. “Saya tidak tega melihat penderitaan dua keponakan saya yang masih kecil, mereka sudah kehilangan bapak dan ibu akibat kebakaran," ujar Hariyanti.
Nurfaidah, lanjut Hariyanti, sering berperilaku seperti mencari orangtuanya. “Dia menangis tengah malam mencari ibu dan bapaknya," ujarnya.
Hariyanti mengisahkan kembali peristiwa kebakaran yang sempat dituturkan Jufri sebelum meninggal. Kebakaran yang menghanguskan rumah dan isinya terjadi usai Magrib pada 15 April lalu.
Usai salat Magrib, dia bergegas ke warung samping rumahnya untuk membeli minyak tanah. Dia bermaksud menyalakan lampu pelita karena tidak ada listrik di rumahnya.
“Saat membeli minyak tanah, sudah ada tanda-tanda keanehan pada Jufri karena dia bukannya membeli minyak tanah, tetapi bensin. Bahkan, pemilik warung sempat heran dan menanyakan mengapa membeli bensin bukan minyak tanah, tetapi Jufri tetap bersikeras membeli bensin," kata Hariyanti.
Tiba di rumah, Jufri mengambil sebuah pelita di ruang tamu untuk diisi bensin. Saat itu, api berkobar dan membakar tubuh Jufri.
Islamuddin, anak pertama korban yang berada dekat bapaknya, ikut tersambar api. Begitu pun dengan istri korban, Rahmawati.
Jufri berhasil menolong istri dan anak pertamanya keluar dari dalam rumah dalam kondisi terbakar. Untung saja, ketika kejadian itu hujan lebat, sehingga tubuh tiga korban yang terbakar cepat padam.
Setelah keluar dari rumah dalam kondisi terluka, api semakin membesar membakar rumah karena bensin dalam jeriken kecil tumpah di lantai rumah yang terbiat dari papan. Saat itu, Islamuddin berteriak meminta tolong karena adiknya, Nurfaidah, masih berada di dalam rumah.
Mendengar suara anaknya, Jufri menerobos kobaran api untuk menolong Nurfaidah yang tengah tidur pulas dalam ayunan dalam kamar. “Jufri sempat cerita, waktu menolong Nurfaidah, kamar belum seluruhnya terbakar. Waktu itu, kepala Nurfaidah sudah keluar dari ayunan yang terbakar, meleleh, dan mengenai wajah serta beberapa bagian tubuh Nurfaidah. Jufri membungkus tubuh putrinya dengan handuk basah dan berlari menerobos kobaran api,” cerita Hariyanti.
Setelah menyelamatkan istri dan dua anaknya, Jufri berlari menuju rumah Hariyanti, tak jauh dari TKP. “Saya kaget melihat tubuh kakak ipar saya dalam kondisi luka bakar dan sekarat. Dia memberitahukan kalau rumahnya terbakar serta istri dan anaknya ikut terbakar. Kami kemudian membawanya ke rumah sakit," ujarnya.
Kini, setelah orangtuanya tiada, Hariyanti berjanji akan merawat dua keponakannya. Dia juga berdoa agar Islamuddin segera diberi kesembuhan, kendati mengalami cacat fisik bekas luka bakar.
“Ini juga amanah Jufri dan istrinya menitipkan kedua anaknya sebelum meninggal. Mereka minta saya merawat dan mengasuh Nurfaidah dan Islamuddin,” tutupnya.
Jum'at, 24 Mei 2013 10:05 WIB
Jum'at, 24 Mei 2013 09:31 WIB
Jum'at, 24 Mei 2013 06:07 WIB